Mereka Panggil Saya “Sinting”

Jika kamu datang ke Blok M Jakarta, pasti akan menjumpai sesosok wanita “dengan kondisi khusus”. Aku lebih memilih kata-kata “dengan kondisi khusus” dibanding kata-kata “Gila” atau “Sinting”. Simple saja alasannya, karena wanita ini sebenarnya ‘Unik”. Orang-orang terminal Blok M mengenalnya dengan nama “Vera”. Seorang wanita kurus dengan kulit kehitaman akibat terbakar matahari. Dan kali ini aku menjumpai yang kedua kalinya, sebelumnya aku mengetahui wanita dengan kondisi khusus ini dipukuli oleh beberapa lelaki karena mengejar-ngejar seorang gadis. Gadis itu ketakutan dan beberapa penumpang membantunya dengan memukuli wanita dengan kondisi khusus itu. Kasihan.

Kali ini aku menemui wanita itu naik di bagian depan mikrolet 75. Sopir dan kenek yang merupakan suami istri mencoba menenangkan wanita dengan kondisi khusus itu (Vera). Apa pasal? Karena Vera memgang uang sekitar Rp 150.000 dan mencoba menyobek-nyobeknya. What? Uang segitu mau disobek-sobek? Mending ambil aku aja. Tapi Vera ini kayaknya masa bodo sama teriakan sopir dan Ibu Kenek mikrolet yang mewanti-wanti agar duitnya disimpan jangan disobek. percakapannya kurang lebih seperti ini :

V : Vera, S : Sopir, K : Kenek )

  • V: Uangnya buang aja ya… buang aja… (sambil membuka kaca mikrolet)
  • S : Jangan… aduuh Vera jangan dibuang itu buat makan saja
  • V : Adek buang aja yaaa….
  • K : Aduh Veraaaa… disimpan aja dibilangin… Buat makan Vera nanti ya? (Membujuk sambil mencoba merebut uang yang akan dibuang)
  • V : Tapi Adek jangan dipukul yaaa? Adek jangan dipukul (Suaranya mulai merajuk)
  • S : Iya.. makanya uangnya jangan dibuang nanti sama orang lain dipukul
  • V : (Mukanya berubah menjadi ketakutan) Adek gak mau dipukul.. adek gak mau dipukul…
  • K : Nggak… nggak bakal dipukul makanya disimpan ya uangnya… (Ibu Kenek ini kerepotan menenangkan Vera)

Akhirnya Vera mulai tenang lalu dia memain-mainkan kakinya ke kaca mikrolet. Lalu tak lama kemudian seorang gadis berumur sekitar 27 tahunan naik ke Mikrolet. Belakangan aku mengetahui namanya Fanny Syofyami orang Padang. Di tangannya kulihat sebuah plastik siomay. Siomay itu ternyata menarik perhatian si Vera.

V : Vera, F : Fanny )

  • V : Kaka… bagi dong… aku mau Kaka
  • F : (Diam bergeming lalu pindah ke kursi sebelahnya menjauh dari Vera, mungkin ketakutan)
  • V : Kaka bagi dooong… Aku mau kakaaaa… (mulai agak keras)
  • F : (Tetap diam bergeming dan aku semakin gemas)
  • V : Kakaa…. aku minta itu…. (Semakin keras suaranya dan merajuk seperti anak kecil)
  • F : (Tetap diam saja, sedangkan aku semakin gemas)
  • V : Mau ituuuu… *brak *brak *brak (Memukul kursi mikrolet)
  • F : (Akhirnya dengan takut-takut memberikan siomay yang tinggal dua potong saja)
  • V : Makasi kakaaa… ini pedas gak kakaaa?Pedas gak? Pedas gak? (Dengan ekspresi kegirangan)
  • F : (Hanya diam, aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya karena dia duduk di depanku)

Pak sopir, kenek dan beberap penumpang lainnya termasuk aku hanya menggelang-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. Lalu hening dan tiap orang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ibu kenek mikrolet tetiba merangsek kedepan lalu memberikan air mineral dingin pada Vera.

V : Vera, S : Sopir, K : Kenek, A : Aku )

  • K : Nih minum yaaa… (menjulurkan air mineral dingin ke Vera)
  • V : Dingin yaaa??? (Padahal sudah dipegang di tangannya dan tentunya pasti dingin ya)
  • S : Udah minum aja Vera (Sopir mulai gemas dengan tingkah laku Vera)
  • V : Adek gak suka dingin… Adek bisa sakit minum air dingin
  • S : Oh berarti suka air panas? (Sahutan Pak Sopir ini membuat tertawa penumpang mikrolet lainnya)
  • V : Pak Sopir marah gak sama Adek? (Vera bertanya seperti gaya anak-anak kecil polos)
  • S : Gak lah… Gak Marah
  • V : Beneraaan?
  • S : Iya beneran!
  • V : Pak Sopir sayang nggak ma Adek?
  • S : Iya sayang… semua orang sayang sama Vera… (Menjawab seolah-olah Vera adalah anaknya sendiri)
  • V : Pak Sopir jangan pukul Adek yaaa…
  • S : Nggak, nggak akan pukul Vera…
  • V : Jadi Pak Sopir sayang Adek?
  • S : Iya sayang kok… Semuanya sayang kok sama Vera..
  • V : Seeep… I love you too… Yessss!!! (Dengan gaya rocker dan suara “Yess” yang sangat amat keras, terus terang aku gak bisa menahan tawaku melihat tingkah polah Vera ini begitu juga dengan penumpang lainnya yang sampai ngakak guling-guling gak ketulungan)
  • S : Hahahaha… (pak Sopir ikut tertawa ngakak)
  • V : (Mengalihkan pandangannya ke aku) Tau nggak? Orang-orang bilang Adek Gila…
  • A : (Aku cuma tersenyum kecut)
  • S : Siapa yang bilang Vera Gila?
  • V : Itu orang-orang di terminal bilang  Vera sinting (meletakkan jari telunjuknya secara miring di dahinya)
  • S : Nggak… Vera nggak sinting kok
  • V : Pak Sopir sayang ma Adek kan? Kakak juga kan sayang ma Adek? (mengerlingkan pandangan padaku dan gadis di depanku)
  • A : (Aku hanya mengangguk dan tersenyum)

Sampai disini aku berpikir ulang sebenarnya Vera ini gila atau tidak sih? Mengingat dia menyadari paradigma dan pemikiran orang lain terhadap dirinya. Pemikiranku sih Vera tidak gila, mungkin dia mengalami ketidaksinkronan dalam bagaimana cara beraktualisasi dan bertindak yang pantas dan normal. Tiba-tiba lamunanku dikejutkan oleh “sesuatu” yang dilemparkan oleh Vera. Ketika aku melongok ke kolong kursi mikrolet kulihat segepok uang seratus ribuan. Kalau bisa kutaksir jumlahnya sekitar 1 juta lebih. Otomatis Ibu kenek mikrolet mengomel-ngomel gak karuan melihat uang yang dilemparkan serampangan oleh Vera. Penumpang lainnya juga amazed melihat segepok uang yang dibuang Vera seolah-olah itu adalah barang mainan. Aku hanya bisa membantu memunguti dan memberikannya pada Ibu kenek. Beberapa menumpang menyarankan agar Sopir dan Kenek itu menyimpannya sementara daripada nanti beneran dibuang.

V : Vera, S : Sopir, K : Kenek )

  • K : Aduh Vera, nak jangan dibuang-buang begini buat makan saja.
  • S : Nanti makan yah di Pasar Minggu
  • V : Asyiiik… beneran ya Pak Sopir makan disana… (Suara dan tingkahnya seperti anak kecil)
  • S : Iya beneran nanti di Pasar Minggu ya… (Membujuk Vera agar tenang)
  • V : Pak sopir gak marah kan? Pak Sopir sayang kan sama Adek?
  • S : Iya… Kita semua sayang Vera. Makanya jangan dibuang-buang ya uangnya.
  • V : Pak Sopir jangan pukul Adek ya? Adek ga mau dipukul…
  • S : Iya janji…
  • V : Horeee… You know.. I dont like someone hit me… (WHATTTT?????)

Aku benar-benar shock mendengarnya, begitu juga mbak Fanny (gadis yang siomaynya direbut Vera). Aku sempat sangsi, apa benar itu Bahasa Inggris? Dan Vera melafalkannya dengan sangat fasih. Nah pada saat itu aku mencoba mengabadikan di kamera bbku. Tapi ternyata lowbatt penyakit umum blackberry. Lalu kucoba dekati gadis itu, aku ngobrol sebentar menanyakan dia ada bb gak? Aku minta tolong agar Mbak Fanny memotret si Vera. Ketika mbak Fanny mencoba memotret si Vera. Tiba-tiba si Vera dengan spontan menutup mukanya.

V : Vera, A :  Aku )

  • V : I dont like it… Dont take my picture… I dont like it….
  • A : Any problem if I take your picture? (Aku mengajak dia berbicara dengan bahasa Inggris)
  • V : I dont like the picture of me… because I am ugly… (Wow… aku semakin amazed dengan kemampuan bahasa Inggrisnya, aku menoleh ke mbak Fanny dan kulihat wajahnya juga amazed gitu)
  • A : Where did u study English Vera?
  • V : I don’t study English…
  • A : Maybe someone teach you?
  • V : Noooo…. no one teach me about English?
  • A : So how can u speak English well?
  • V : It is just mmm… (Dia berpikir) Otodidak… otodidak (vera bilang sambil mengacungkan tangannya ke atas)

Semua orang tertawa kagum sekaligus lucu melihat tingkahnya. Diam-diam aku mengambil Blackberry Mbak Fanny dan mengarahkannya diam-diam ketika Vera sedang tidak memperhatikan.

  • A : So where do you live actually Vera? (aku bertanya lagi sambil memencet tombol kamera)
  • V : No no no (Vera berteriak sambil menunjuk-nunjukku) Dont take my picture… I am ugly….
  • A : Hey c’mon who’s said that Vera? Yoa are not ugly…
  • V : Hehehe… you lie to me….
  • A : No… I am not lying…
  • V : I can see in your eyes… hhehehe (dia terkekeh)
  • A : (Aku hanya terdiam dan menoleh ke mbak Fanny. Antara percaya dan tidak dengan kemampuan Vera yang mungkin menurut sebagian orang dianggap Gila)

Lalu aku berbicara dengan Mbak Fanny mengenai uang jutaan rupiah yang dibuang-buang oleh Vera. Aku berbicara kemungkinan uang itu didapat Vera dari mencuri. Lalu aku mendengar Vera berteriak-teriak ke arahku…

  • V : I am not a thief… aku bukan pencuri… (dengan roman muka tidak terima dikatain bahwa uang tadi hasil mencuri)
  • A : Oh no Vera… you are not a thief… I am sorry (aku merasa bersalah ngomongin bahwa dia mencuri uang)

Lalu Mbak Fanny mencoba menenangkan Vera dengan mengajak bicara.

  • F : Vera dari mana?
  • V : I come from West Sumatra (tangannya diangkat menunjukkan seolah-olah Sumatra Barat itu jauh sekali)
  • F : Lho? Bisa bahasa Padang dong? (kali ini mbak Fanny kaget). Padangnya dimana? Bisa bahasa padang dong?
  • V : Iyooo Uni…
  • V & F & … = %&$%#!@!# (Berbahasa Padang)

Selanjutnya aku gak paham mereka bicara apa. Yang pasti bahasa Padang dan yang kutangkap hanya Vera ternyata dari Solok Padang. Bahasanya mirip ipin upin gitu lah nadanya. Dan lucunya ternyata ada sepasang suami istri di belakang aku dan mbak Fanny ternyata orang Bukittinggi Padang juga. Jadilah di mikrolet ini reuni orang Padang. Dan aku terjebak di antara orang Padang. Ketika Vera sibuk ngobrol, aku diam-diam mengambil fotonya. Kuminta mbak Fanny add PIN BBku dan kuminta untuk mengirimnya ketika bbku sudah aktif. Thank you Mbak Fanny atas bantuan blackberrynya yaaa.

Ini yang penasaran sama Vera. Wanita unik terminal Blok M

Aku tidak tahu kelanjutan cerita mereka karena aku harus turun dari mikrolet itu. Yang pasti dari pertemuan dengan wanita dengan keadaan khusus (Vera) dan orang-orang Padang serta Pak Sopir dan Ibu Kenek baik hati itu, aku menemukan kelucuan dan keunikan dari kehidupan Ibukota ini. Vera yang selalu mengulang-ulang kata-kata “Pak Sopir sayang aku kan?” atau “Mereka panggil saya sinting” cukup membuatku berpikir bahwa wanita ini sebeanrnya tidak gila. Entah dia mengalami down syndrome ringan atau hiperaktivitas atau mungkin asperger syndrome dan entah apalah itu, yang pasti dia tidak gila. Aku mengkhawatirkan bagaimana kehidupan dia Jakarta yang cukup keras ini. Siapa yang akan memberi makan kalau dia tidak punya uang? Siapa yang mau mengurus orang-orang dengan kebutuhan khusus seperti Vera ini? Sungguh sangat rawan sekali Vera diantara kriminalitas yang ada. Bagi yang mau tahu Vera, cobalah mengitari terminal Blok M. Siapa tau dia sedang menakut-nakuti gadis-gadis dengan tingkahnya. Aku berharap orang-orang disitu mengerti dia dan tidak memukuli dia lagi.

Jakarta